Gardini Oktari, Perempuan Tangguh Melawan Ketertinggalan

Gardini Oktari

Perempuan ini lahir 31 tahun yang lalu, di Jakarta. Di kota metropolis yang sarat dengan hedonisme berikut tendensi sosial yang mengedepankan strata serta latar belakang pendidikan, namun Gardini Oktari berhasil membalikkan keadaan atas semua ketertinggalan yang melekat padanya.

Dalam sebuah wawancaranya di media daring Tempo.co, putri seorang dokter ini menceritakan banyak pengalaman, salah satunya di olok-olok oleh teman-temannya karena lambatnya daya tangkap atas pelajaran yang diterimanya.

Gardini memang memiliki kecerdasan intelektual atau IQ di angka paling tinggi 70. Namun semua itu tidak menyurutkannya untuk terus maju melangkah menggapai masa depan.

Slow Learner atau Lambat Belajar

“Banyak tunagrahita yang kesal dibilang bego. Padahal, ya, emang bener, kan? Ha-ha-ha,” ujar Gardi kepada Tempo yang mewawancarainya. “Aku, sih, ketawa aja kalau ada yang menyebutku begitu.”

Gardini termasuk bagian dari Tunagrahita atau anak-anak berkebutuhan khusus namun berhasil menunjukkan ketekunannya untuk belajar dan terus belajar.

Di saat teman-teman yang lainnya menghabiskan waktu diluaran, dia menghabiskan waktunya di toko buku atau perpustakaan untuk menambah pengetahuannya serta mengejar ketertinggalan.

Proses belajar yang dialaminya perlahan namun pasti membangun kepercayaan dirinya menghadapi segala tantangan yang harus dihadapinya.

Salah satu kesulitan yang didapatnya seperti saat masa kuliah, dimana semua teman-temannya berhasil menangkap materi pelajaran namun ia tak berhasil mencernanya.

Kondisi ini tidak menyurutkannya mencari cara agar bisa mengetahuinya, Gardini pun mencetak materi kuliah kemudian dibawanya ke ruang dosen untuk meminta penjelasan lebih lanjut.

Sampai pada akhir perkuliahan hambatan terakhirnya adalah saat mengerjakan penelitian skripsi, dengan mengambil tema Efek Parenting Untuk Metode Glenn Domen untuk usia 5-6 tahun.

Memutuskan untuk mengambil tema tersebut karena Gardi pernah masuk dalam komunitas Glenn Domen tersebut dan efek parenting merupakan saran dari salah seorang dosen pembimbingnya yaitu Ibu Masni Erika Firmiana, S.Sos. M.Si..

Kesulitan dalam penelitian itu terjadi pada saat Gardi mulai meneliti objek penelitianya dimana objeknya adalah anak-anak yang banyak tidak mau di wawancara juga di foto untuk melengkapi penelitianya.

Dengan proses yang sangat panjang hampir 2 (dua) tahun Gardi berhasil merampungkan penelitian skripsinya tidak hanya dengan batuan dosen pembimbing melainkan juga dengan bantuan orang tua yang banyak memberikan dukungan kepada gardi yang merupakan anak spesialnya ini.

Dengan seluruh kerja kerasnya Gardi berhasil lulus pada tahun 2013 dengan predikat sangat memuaskan. Setelah lulus kesibukanya semakin bertambah dengan banyak sekali di undang di berbagai seminar.

Ia tergabung dalam komunitas orang tua yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus. Sebagai penyandang ABK Gardi merasa sedih ketika anak ABK selalu dikucilkan dan dianggap tidak pantas berada di masyarakat.

Gardi telah membuktikan dengan keterbatasan tersebut ia bisa bertahan di lingkungan sosialnya dan berhasil memotivasi banyak orang.

Saat ini ia juga aktif sebagai pembicara pada seminar-seminar berskala nasional dan juga sebagai narasumber dari berbagai media nasional seperti Tempo, Majalah Nakita, dan Radio DFM 103.4 FM.

Gardi berusaha mendongkrak paradigma bahwa seorang anak berkebutuhan khusus juga layak dan mampu berkompetisi dengan anak-anak lainya. (dikutip dari situs web Al Azhar)Foto Gardini Oktari

Sebagai pribadi yang tergolong lambat belajar, keberhasilan Gardini sangat patut untuk di apresiasi dan bisa menjadi contoh baik bagi para orang tua yang memiliki anak-anak lambat belajar atau slow learner atau tuna grahita.

Agar tetap semangat mendidik anak-anaknya memiliki kehidupan serta masa depan seperti anak-anak normal lainnya. Sungguh luar biasa pula bagi orang tua Gardini Oktari dalam menemani proses perkembangan belajar anak kedua mereka ini.

Perjuangan luar biasa Gardini Oktari berhasil membawanya ke berbagai prestasi sehingga banyak media serta kegiatan yang mengundangnya seperti di bawah ini:

  • Wawancara dari salah satu majalah anak yaitu Nakita dengan judul “Mereka Berhasil Menunjukkan Potensinya” edisi 11-17 Mei 2009
  • Seminar bersama dengan Sanotarium Dharmawangsa bekerjasama dengan SLBC Yayasan Pendidikan Budi Waluyo bersama juga dengan I’M STAR band yang personil bandnya semuanya autis pada sabtu 7 Juli 2012 dengan tema “SARASEHANAWAMSLOWLEARNER ‘Apa itu Borderline Intellectual Functioning (BIF) atau Borderline Inellectual Disability (BID) atau slowlearner? Bagaimana kita menyikapinya? Dan apa yang harus dilakukan apabila kondisi tersebut dialami orang terdekat kita?’”.
  • Seminar bersama dengan Klinik Yamet di Cirebon pada Minggu 17 Februari 2013 dengan tema “Memaksimalkan Potensi Tumbuh Kembang Anak Melalui Pendidikan, Kesehatan dan Lingkungan Keluarga”.
  • Wawancara ‘ONAIR’ dengan di Radio DFM 103.4 FM pada Kamis 18 April 2013 dengan tema tentang “Penyandang Disabilitas dan Mensosialisasikan Hak-hak Anak Penyandang Disabilitas”.
  • Seminar bersama dengan Klinik Yamet di Indramayu pada Kamis 16 januari 2014 “MEMAKSIMALKAN PERAN PENDIDIK DAN TENAGA KESEHATAN DALAM MENDETEKSI DINI DAN MEMBENTUK KARAKTER ABK”.
  • Seminar bersama dengan Yayasan Andaru Selaras, Minggu 16 Maret 2014 dengan tema “WOW, Bersama Anak Yatim Piatu”.
  • Wawancara salah satu majalah Tempo dengan judul “Anomali IQ Jongkok” edisi Kamis 5 maret 2015
  • Wawancara salah satu majalah Cita Cinta dengan judul “IQ Rendah Bukan Masalah” edisi April 2015 halaman 139-140
  • Wawancara dengan Humas Universitas Al-Azhar Indonesia “Slowlearner Become a Succsess Motivator” http://uai.ac.id/2015/04/20/slow-learner-become-a-succsess-motivator-gardini-oktari-s-pd/
  • Wawancara ‘OFFAIR’ lewat telpon dengan di Radio DFM 103.4 FM pada Senin 30 November 2015 dengan tema tentang “Gaya Pola Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus”.
  • Wawancara dengan Student Job Indonesia @IDStudentjob pada Jumat 15 Januari 2016 dengan tema “A Story of Inspirational Slow Learner Girl”
  • Seminar bersama dengan Klinik Yamet di Cirebon pada Minggu 28 Februari 2016 dengan tema “Mereka Bisa Sukses”.
  • Wawancara ‘ONAIR’ dengan Dreamers Radio pada Rabu 25 Mei 2016 dengan tema tentang “Berkarya dan Berkarier sebagai Anak Berkebutuhan Khusus”.
  • Wawancara dengan suara jakarta pada 25 Mei 2016 dengan tema “BELAJAR PANTANG MENYERAH DARI SLOW LEARNER GIRL BERNAMA GARDINI OKTARI SPd” http://suarajakarta.co/lifestyle/inspirasi/belajar-pantang-menyerah-dari-slow-learner-girl-bernama-gardini-oktari-spd/
  • Wawancara dengan lini sehat pada 14 november 2016 dengan tema “Ini yang Akan Terjadi Jika Pola Asuh Pada Anak Slowlearner Tepat!” https://linisehat.com/ini-yang-akan-terjadi-jika-pola-asuh-pada-anak-slow-learner-tepat/
    Pemotrettan di Universitas Al-Azhar Indonesia pada 1 November 2016 dengan tema “A Good Place Islmaic Leader for the next 2017”.
  • Diwawancara oleh mahasiswa S2 Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Keperawatan dengan mata kuliah Keperawatan Anak Lanjut II pada tanggal 20 Maret 2017
  • Seminar bersama dan Charity Day dengan tema “Senandung Cinta Dalam Asa” bersama dengan Yayasan Pelangi Asa pada Minggu 29 April 2018
  • Wawancara salah satu majalah Wanita Indonesia dengan judul “Punya Kekurangan Bukan Berarti Bodoh” edisi 6 Juni 2018 http://wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&id=18060010

Semoga selalu sukses ya Gardini, tetaplah tangguh dan menginspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Tulisan Lain

fashion, hair, outdoors

Perempuan adalah Sahabat Bagi Perempuan Lain

Setiap perempuan itu unik. Setiap perempuan memiliki kisah perjuangan hidupnya sendiri, yang satu berbeda dengan yang lain. Masing–masing mengalami saat–saat dimana mereka merasa bahwa tekanan

Fien Jarangga

Kisah Mama Fien Jarangga (Yarangga)

Fien jarangga biasa disebut sebagai Awin Fien. Awin merupakan panggilan kehormatan perempuan Papua terhadap perempuan yang dituakan atau dianggap sebagai ibu, figur atau sosok yang

Send Us A Message