Kisah Mama Fien Jarangga (Yarangga)

Fien Jarangga

Fien jarangga biasa disebut sebagai Awin Fien. Awin merupakan panggilan kehormatan perempuan Papua terhadap perempuan yang dituakan atau dianggap sebagai ibu, figur atau sosok yang dianggap bisa melindungi terhadap perempuan lain. Ketika seorang perempuan mengalami kekerasan apalagi jika itu terjadi kepada dirinya dalam lingkungan yang paling dia jaga yaitu keluarga, maka dapat dipastikan perempuan itu pasti akan mengalami shock. Jika hal ini berlangsung terus menerus bisa dipastikan shock itu akan berubah menjadi sebuah trauma panjang.

Di Papua, hal ini tidak hanya menimpa satu, dua, sepuluh atau seratus perempuan. Hasil penelitian dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan menyatakan bahwa 8 dari 10 perempuan Papua mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ini merupakan bahaya atau kejadian yang di alami atau menjadi bagian dari kehidupan perempuan papua sehari-hari. Jika banyak perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, mereka menjadi korban dari nasib dan hidup mereka sendiri.

Lantas apa yang bisa mereka lakukan? Menyerah, pasrah atau apa? TIKI komunitas yang di gagas oleh Kakak Fien menjawab dengan “BERSATU”. Para perempuan Papua terutama daerah Jayapura yang mengalami KDRT, berinisiatif membuat komunitas dimana mereka bisa berkumpul dan berbagi bersama untuk mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini merupakan upaya yang mengakar pada tradisi yang mereka angkat dari budaya lokal Papua sendiri. Kelompok atau komunitas ini menamakan diri mereka TIKI.

Dalam bahasa Papua, TIKI dapat diartikan sebagai “Stop Sudah” atau “Cukup Sudah”. Komunitas TIKI merupakan bagian dari jaringan HAM perempuan di Papua, khususnya terkait masalah-masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau penganiayaan terhadap perempuan dan anak. Salah satu kegiatan utama komunitas TIKI adalah yang disebut sebagai Anyam Noken Bersama. Noken adalah kantong atau tas rajut tradisional Papua sebagai perangkat untuk mengangkut anak, ternak dan sebagainya yang merupakan bagian dari kehidupan keseharian masyarakat Papua, khususnya perempuan.

Sebuah tradisi di Papua dimana jika seorang perempuan menganyam noken, duduk didepan rumahnya, maka tak lama kemudian perempuan lain atau tetangganya akan menghampiri dan duduk bersamanya. Dari satu, dua, hingga akhirnya beberapa perempuan kumpul bersama, melihat atau membantu salah satu dari mereka atau mengerjakan noken bersama-sama, sambil berbincang mengenai persoalan atau kejadian dalam hidup mereka sehari-hari. Kebiasaan inilah yang diadopsi oleh komunitas TIKI menjadi aktivitas Anyam Noken Bersama. Anyam Noken Bersama menjadi bagian dari upaya penyembuhan (healing treatment).

Sebuah kegiatan yang merupakan ujung rangkaian dari peristiwa panjang dan traumatis berisi kekerasan terhadap perempuan Papua. Hal ini dimulai dari penelitian yang dilakukan oleh Komnas HAM dan Komnas Perempuan terhadap perempuan-perempuan Papua selama tahun 1963 hingga tahun 2009. Penelitian Ini melewati beberapa kurun waktu dan tentu saja beberapa system pemerintahan. Demikian banyak perempuan Papua yang mengalami kekerasan dalam kurun waktu sepanjang itu.

Kenyataannya, hingga hari ini kekerasan terhadap perempan Papua masih terus berlangsung. Untuk itu TIKI sepakat untuk menyatakan “Tidak!”, “Cukup Sudah!”. Lalu apa yang dilakukan oleh komunitas TIKI? Komunitas TIKI melakukan pendampingan dan penguatan terhadap perempuan – perempuan yang mengalami trauma pasca kekerasan dalam rumah tangga. Tidak hanya itu mereka juga melakukan awaraness atau pendidikan mengenai pemahaman hak-hak perempuan yang di lindungi oleh negara. Kampanye ini juga dilakukan terhadap korban dari hasil penelitian tahun 1963 – 2009.

Apa yang mereka yang untut sederhana, hanya agar negara memenuhi hak-hak mereka sebagai warga Negara dan sebagai perempuan. Melalui Anyam Noken Bersama yang diangkat oleh TIKI menjadi sebuah kegiatan, para perempuan yang menjadi korban KDRT dapat berkumpul, bersama-sama membahas masalah yang mereka hadapi untuk kemudian mencoba menyelesaikan masalah itu secara bersama-sama pula. Jika seorang perempuan menghadapi masalahnya sendiri maka dia akan merasa kesepian, terasing, bahkan tak jarang menimbulkan konflik dalam dirinya hingga mengarah kepada depresi.

Tapi jika dia menghadapi masalah itu bersama-sama dengan perempuan lain yang barangkali memiliki masalah kurang lebih sama dengan apa yang dihadapinya, maka perempuan itu akan merasa lebih kuat karena tahu dia tidak sendiri, tahu ada perempuan lain yang mengalami masalah yang sama atau bahkan lebih buruk dari dia yang alami. Hal ini memberi kekuatan tidak hanya bagi perempuan yang menghadapi masalah itu, tapi juga kepada perempuan lain.

Dalam TIKI tradisi ini menjadi sebuah kekuatan dimana perempuan-perempuan ini menyatukan tekad dan semangat untuk bersama – sama untuk mengatakan “Stop Sudah!”, “Cukup Sudah!” , tidak ada lagi kekerasan dalam rumah tangga. Melalui TIKI juga perempuan Papua bersatu menghimpun upaya untuk keluar tidak hanya dari persoalan kekerasan fisik dan mental, tapi juga membentuk dan membangun kekuatan finansial. Sebuah upaya yang pasti tidak mudah, tapi bersama-sama mereka percaya bahwa kekuatan perempuan sangat luar biasa. Mereka percaya bahwa mereka mampu dan pasti bisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Tulisan Lain

fashion, hair, outdoors

Perempuan adalah Sahabat Bagi Perempuan Lain

Setiap perempuan itu unik. Setiap perempuan memiliki kisah perjuangan hidupnya sendiri, yang satu berbeda dengan yang lain. Masing–masing mengalami saat–saat dimana mereka merasa bahwa tekanan

Send Us A Message