Pelecehan Seksual Tak Bisa Dihindari, Harus Dilawan

Pelecehan Seksual dan Edukasi Seksual

Beberapa hari terakhir saya melihat postingan Instagram dari @kisah.perempuan.indonesia, mengenai RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Saya tidak terlalu banyak mempelajari hal ini dari segi hukum, namun yang mengusik saya adalah tema tentang Sexual Harrasment sendiri berkembang dan menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan. Saya tau memang ini bukan “hal” yang baru untuk dibahas, bak sebuah debat kusir yang pada akhirnya harus selesai tanpa ada konklusi yang jelas.

Hal ini kemudian mengusik pikiran dan hati saya untuk mengangkat dalam sebuah artikel sendiri, sekaligus memperkenalkan kebiasaan saya yang terbilang aneh, saya menyebutnya dengan nama “Menarik garis”. Selalu digunakan dalam hal apapun terutama dalam suasana genting dalam menganalisa masalah. Gambarkan disebuah kertas masalah yang dihadapi saat ini lalu tarik garis dan sebutkan penyebabnya, lalu tarik lagi dan pikirkan kembali apa penyebabnya, lakukan itu terus sampai kalian tidak tau lagi apa penyebabnya, maka dari situ lah kalian harus mulai memperbaikinya.

Apa itu Pelecehan Seksual?

Perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang Tak Diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seks.

Apa Penyebabnya?

Banyak refrensi yang saya dapatkan, namun saya akan merangkum keseluruhanya hanya dengan 2 kategori.

1. Rasa Penasaran dan kurang edukasi

Indonesia menganggap pendidikan seks adalah hal yang taboo, orang tua berbicara tentang seks dengan anaknya dianggap canggung dan tidak pantas. Sehingga jalan pintas yang mereka ambil adalah dengan melarang ini dan itu tanpa diberitaukan apa penyebabnya. Lalu berpikir mereka akan menjalani sesuai perintah, mungkin diawal dekade 80 hingga 90-an ya anak akan melakukan apapun yang diperintahkan orang tua tanpa ada pertanyaan. Namun diera sekarang tidak bisa seperti itu, mereka harus diberitahu secara detail atau mereka akan mencari tau sendiri secara detail.

Contoh :

Ketika saya sekolah dulu, banyak teman-teman saya khususnya wanita yang dilarang memiliki hubungan atau kedekatan spesial dengan lawan jenis, atau dengan kata lain dilarang pacaran. Pada saat ditanya kenapa?. Orang tua akan memberikan jawaban template : Fokus sekolah!, biar nilai bagus. Padahal usia 13 tahun hingga 20 tahun adalah usia rawan, yang apabila mereka salah mengambil langkah akan mempengaruhi masa depanya. Di usia itu manusia memiliki hasrat dan rasa ingin tau yang tinggi terhadap lawan jenis, mereka penasaran dan tertarik mempelajari lebih dalam tentang fungsi alat vital mereka, dan juga penasaran tentang apa itu aktifitas seksual dan bagaimana rasanya. Sialnya ini adalah sifat alami seseorang, yang justru harus dimaklumi sebenarnya.

Namun karena tidak dibekali ilmu yang cukup rasa penasaran mereka berubah menjadi bencana. Banyak teman-teman saya yang memiliki wawasan yang tinggi serta kemampuan intelejensi yang diatas rata-rata, harus mengubur dalam rapat citanya-citanya menjadi dokter, menjadi pengacara, notaris, arsitek, dan sebagainya. Hanya karena hamil atau pacarnya yang hamil. Kalau mendapatkan pasangan yang bertanggung jawab, tidak apa-apa. Namun bagaimana jika pasangannya tidak mau bertanggung jawab? atau Dinikahi, lalu setelah 2-3 tahun anaknya lahir langsung mengajukan gugatan perceraian.

Tentu ini akan menjadi masalah baru yang jauh lebih serius. Saya selalu bingung dengan pola pikir orang-orang di Indonesia, mereka selalu khawatir dengan biaya pernikahan yang mahal, padahal yang harusnya mereka khawatirkan adalah kehidupan setelah menikah. Sama halnya dengan pola pikir yang menganggap bahwa dengan menikahkan korban dengan pelaku pelecehan seksual hingga menyebabkan kehamilan, adalah sesuatu yang benar. Dan seakan masalah selesai begitu saja. Padahal kita semua tau dan sadar bahwa hamil diluar nikah adalah hal yang tidak benar & pernikahan bukanlah jalan keluar.

2. Kelainan Seksual atau Fetish

Saya merasa penjelasan ini masih memiliki korelasi dengan penjelasan saya yang diatas. Bahwa kelainan seksual terbentuk berdasarkan karakter orang tersebut yang diakibatkan oleh banyak hal salah satunya adalah melihat & mencontoh dan dampak trauma berkepanjangan. Fetish adalah kondisi dimana seseorang akan melakukan hal tertentu untuk memenuhi hasrat dan nafsu seksualnya.

Sebelumnya saya pernah menjelaskan dalam artikel saya yang berjudul Perceraian & KDRT Mata Rantai yang Berulang Part I & Part II, salah satu penyebab terbesar kegagalan rumah tangga adalah belum siap dalam membina sebuah rumah tangga atau mereka yang menikah karena insiden (MBA). Belum mengenal pasangan secara mendalam sehingga tidak mengerti satu sama lain, ego menutupi komunikasi dua arah yang menyebabkan konflik jangka panjang. Entah itu selingkuh, kekerasan dalam rumah tangga, pelampiasan kepada anak pelecehan seksual atau kekerasan verbal maupun non-verbal.

Mereka melihat bertahun-tahun dan tanpa sadar mencontoh kelakuan orang tuanya dan meninggalkan trauma berkepanjangan. Atau kurangnya perhatian dan pengawasan membuat mereka salah memilih pergaulan. Dua hal ini sama parahnya dan memiliki impact yang sama besarnya, yang akhirnya membentuk karakter baru dan karakter baru mereka menciptakan fantasi baru yang tidak normal.

Contoh :

Salah satu teman wanita saya (kemudian setuju ceritanya diangkat di blog saya), yang mendapatkan pelecehan dari ayah tirinya dan suatu ketika ia berteriak dan mengadu ke ibu kandungnya, sontak saja terjadi perang dunia ketiga, bahkan karena kejadian itu pernikahan mereka hampir kandas. Dia bercerita kepada saya entah kenapa dia mendapatkan kepuasaan seksual saat melihat ayah tirinya memohon maaf sambil berulutut dan berlinang air mata. Sejak saat itu dia memiliki fantasi liar sebuah hasrat ingin memojokan seseorang, dan untuk mewujudkan itu semua, sering kali ia menciptakan situasi yang biasanya dilakukan tempat yang crowded misalnya kendaraan umum, memancing-mancing pria untuk melakukan tindak asusila lalu kemudian berteriak. Melihat pria tersebut dipukuli dan merintih meminta ampun, menimbulkan sensasi berbeda dan kepuasan seksual yang utuh (menurutnya). Dan keduanya memiliki sebuah kesamaan : Harus memiliki kesempatan.

Saat kita berbicara tentang pelecehan seksual maka artinya kita memasuki tema yang luas, jika pelecehan seksual dilakukan secara verbal tentu sudah jelas, bahwa menyentuh dengan paksa apapun itu tujuanya masuk kedalam jenis pelecehan. Berarti pakem nya sudah jelas. Sementara jika kita berbicara non-verbal ini yang rada sedikit rumit dan rancu. Mengapa?, masih menjadi banyak perbincangan bahwa berbicara dan melirik bagian sensitive lalu diangkat sebagai objek pemikiran & perbincangan masuk kedalam kategori pelecehan seksual. Sulit bukan?, itu sama dengan melarang orang untuk berpikir dan berbicara. sementara ada sifat alami dari seorang pria adalah melirik apapun yang menarik untuk dipandang, dan itu adalah sifat alami yang tidak bisa di ubah, lalu siapa yang bisa mengatur itu semua?.

Jika pelecehan seksual secara non-verbal dibuatkan pasal, maka Indonesia akan memliki penjara 8x lebih besar dari Nusa Kambangan dan Alcatraz, dan uniknya penjara tersebut hanya huni oleh orang-orang cabul. Lalu saya menarik kesimpulan : Pelecehan Seksual Sama seperti berbohong, tidak bisa dihindarkan tapi bisa diketahui sama seperti bullying tidak bisa dicegah tapi bisa dilawan

Sex Education defeat Sexual Harrasment

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang dicanangkan hanya bersifat sebagai fasilitas yang sah dan mengikat secara hukum. Lalu pertanyaanya: Dengan adanya RUU ini apakah Pelecehan Seksual bisa dicegah? Apakah jumlah kasus pelecehan seksual bisa berkurang? Saya rasa itu tidak akan mengubah apapun, bahkan menekan angka pelecehan seksual saja tidak.

Pada tahun 2017 sendiri ada 348.000 kasus pelecehan seksual terhadap wanita, yang meliputi kekerasan. Dimana 116 diantaranya adalah kasus kekerasan seksual menyebabkan kematian. Kasus pelecehan seksual bersifat kekerasan seksual terhadap pria naik diangka 43 orang, dan rata-rata terjadi pada anak dibawah umur. Jika kita ambil perbandingan memang kasus pelecehan yang terjadi terhadap wanita dan pria memang sangat jauh, namun itu bukan poinya.

Saya ingin mengulang pertanyaan diatas. Apakah dengan adanya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual mendapat menjamin berkurangnya angka kasus pelecehan hingga kekerasan seksual yang terjadi? Kita semua berharap! Selama ini yang menjadi masalah korban pelecehan takut!, boro-boro untuk melawan bahkan untuk berteriak pun mereka takut, sementara penumpang sekitar. Kebetulan melihat menutup mata dan tidak bereaksi selama korban belum berteriak. Seolah mereka semua memainkan hukum sebab dan akibat. Penyebabnya : Korban berteriak Akibatnya : Tersangka diamuk masa.

Dibeberapa kejadian terutama yang menimpa pelajar atau mereka yang dibawah umur, mereka lebih memilih untuk diam, dan pasrah berharap akan segera berakhir. Ironisnya sebagian lainya tidak mengetahui bahwa yang mereka alami adalah bentuk pelecehan.

Sex Education (harus) meliputi :

  1. Bagian tubuh yang tidak boleh disentuh
  2. Mengenal organ reproduksi
  3. Aktifitas Seksual & akibat
  4. Kesadaran akan fungsi-fungsi seksual
  5. Masalah-masalah seksualitas & Faktor penyebabnya
  6. Bentuk-bentuk pelecehan seksual
  7. Berani melawan pelecehan seksual dan berani membela korban pelecehan seksual

Jika sex education dicanangkan sejak usia dini, saya tidak janji mengurangi angka kasus pelecehan seksual namun saya yakin dapat membantu pihak yang selama ini dirugikan untuk bangkit dan melawan, sekaligus membantu pihak berwajib untuk memberantas manusia-manusia cabul. Kurang edukasi dapat menjadi sangat fatal, sementara banyak juga orang tua yang naïf atau mungkin terlalu egois tidak mau mengkui. Bahwa mereka juga ikut berkontribusi atas bencana yang terjadi.

Hamil di luar nikah tetap masih di anggap taboo dan melanggar norma bagi berbagai macam khalayak terutama mereka yang usianya sudah menginjak 40 tahun keatas, namun aktifitas seksual tidak akan terjadi tanpa adanya pelecehan terlebih dahulu. Mereka berdua sama-sama mengetahui bahwa hal yang mereka lakukan itu tidak benar. Namun rasa ingin tau lebih besar dari rasa bersalah. Artinya aktifitas tersebut dilakukan secara sengaja dan dalam keadaan yang sama-sama mau.

Jadi sumber masalahya adalah kurang edukasi bukan hubungan spesial yang terjalin antara pria dan wanita. Itu kan bicara tentang anak dibawah umur, bagaimana dengan mereka yang dewasa? Jika itu menyangkut teman tentang seks, sampai kapan pun kalian akan merasakan sensasi penasaran. Terutama saat melakukanya dengan orang baru.

Itu lah kenapa banyak kasus perselingkuhan yang terjadi, karena setiap manusia memiliki rasa penasaran. Dimana rasa itu harus segera ditunaikan dan apabila tidak maka itu akan menganggu pikiran kalian dimalam-malam selanjutnya. Lantas apa yang membuat seseorang itu sadar dan terhindar?

M.O.R.A.L

Siapa yang salah? Selama ini permasalahan tentang siapa yang salah bagai debat kusir tanpa ada kongklusi yang jelas. Akan selalu ada perbedaan perspektif mendasar setiap manusia tentang tema ini.\r\n\r\nPerbedaan ini lah saya simpulkan menjadi sebuah jurang baru yang kemudian membatasi ruang gerak orang-orang disekitar.

Menurut Pria : Pelecehan Seksual adalah kesalahan wanita yang menggunakan pakaian minim sehingga memancing rangsangan seksual.

Menurut Wanita : Pelecehan seksual adalah kesalahan pria karena terlalu liar dalam berpikir dan berfantasi.

Artinya karena perspektif ini membuat opini baru. Bahwa orang ini memang patut dilecehkan. Hanya karena pakaianya yang menurut mereka terbuka, lantas orang tersebut jadi kehilangan haknya. Saya merasa harus meluruskan hal ini bahwa negara menjamin kebebasan rakyatnya dalam memeluk agama. Artinya untuk hal yang prinsip saja negara menjamin kebebasan rakyatnya, apa lagi untuk hal-hal yang tidak prinsip seperti berpakaian.

Begitupun dengan fantasi, tidak ada satupun orang maupun sistem yang dapat mengatur fantasi seseorang. Dan tidak ada satupun orang selain diri kita sendiri yang mampu mengubah pola pikir. Pelecehan seksual adalah tanggung jawab bersama, 1000 RUU tentang Pelecehan Seksual tidak akan mampu mencegah apalagi menghilangkan pelaku pelecehan seksual, namun 1 orang berani dapat membantu mereka keluar dari jerat Pelecehan Seksual hingga kekerasan yang berujung kematian. Edukasi juga sama pentingnya dengan keberanian, kita bukan hanya bisa mencegah namun juga bisa mengantisipasi.

J. Poulli dalam Blognya Etimologikomuni.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Tulisan Lain

fashion, hair, outdoors

Perempuan adalah Sahabat Bagi Perempuan Lain

Setiap perempuan itu unik. Setiap perempuan memiliki kisah perjuangan hidupnya sendiri, yang satu berbeda dengan yang lain. Masing–masing mengalami saat–saat dimana mereka merasa bahwa tekanan

Send Us A Message