Beban Indah Menjelma Hadiah Berharga

Syagini Ratna Wulan

Nama Syagini Ratna Wulan atau biasa dipanggil Cagi selama ini lebih dikenal sebagai seorang perupa, seniman yang karya seninya lebih banyak berupa seni instalasi, terutama ‘seni instalasi participatory’, dimana karya seni itu tidak hanya dapat dilihat dan dipegang, tapi masyarakat penikmat karya seni juga menjadi bagian dari karya seni itu sendiri. Sebagai perupa, karya Cagi tidak hanya dinikmati di Indonesia. Karyanya juga dipamerkan di manca Negara. Karyanya yang ia beri judul ‘Bibliotea’ bahkan meraih penghargaan Celeste Prize di New York tahun 2011.

Sebuah karya instalasi yang membuat pengunjung serasa mengunjugi toko buku sekaligus rumah teh imajiner. Karya Cagi yang lain juga ditampilkan di Art Stage Singapura pada 2016. Karyanya juga secara rutin ditampilkan di ArtJog, sebuah ajang pameran karya seni di Jogjakarta yang menampilkan karya-karya seni terbaik dari Indonesia dan manca Negara. Tahun 2018 ini, karya Cagi juga menjadi salah satu penampil yang paling banyak menyedot perhatian di ArtJak, di Pacific Place, Jakarta.

Menjadi perupa adalah cita-cita dan hasrat hidup Cagi. Dia merasa sangat beruntung bahwa dia mampu meraih apa yang ia idamkan. Jalan menuju kesana sangat tidak mudah dan yang pasti, tidak murah. Dalam bahasa Cagi sendiri,”Biasanya kita struggling terus, hidup untuk seni atau seni untuk hidup”. Besarnya biaya real yang harus dikeluarkan seorang seniman untuk menghasilkan karyanya, waktu dan emosi yang ia curahkan, seringkali kurang mendapat penghargaan yang layak dari sisi sosial dan terutama materi.

Padahal ide besar yang terkandung dalam sebuah karya seni merupakan gambaran dari masyarakat itu sendiri. Terlepas dari kegiatannya sebagai seorang perupa, Cagi memiliki kisah tersendiri mengenai warisan ayahandanya. Pada suatu waktu, sang ayahanda yang adalah pengusaha, memutuskan untuk berhenti berbisnis, sementara ada pekerja yang menggantungkan hidup menjadi pegawainya.

Sang ayah mewariskan usahanya kepada Cagi. Menjadi seniman memang merupakan cita-citanya, tapi Cagi tidak pernah punya keinginan untuk menjadi pebisnis, apalagi menjalani usaha yang tidak menjadi pilihan hatinya. Lantas apa yang dapat ia lakukan? Watak seniman adalah watak pejuang. Seorang seniman tidak menyerah pada tantangan. Seniman sejati seperti Cagi, melihat warisan sang ayah sebagai sebuah anugerah yang harus ia jaga dan pertahankan. Apalagi saat ia melihat pada para pekerja yang harus terus hidup.

Keluarga mereka butuh uang. Memberikan uang aku pasti tak mampu, begitu pikir Cagi pada saat itu. Tapi aku bisa memberikan mereka pekerjaan. Yang harus aku lakukan adalah mencipta pekerjaan yang dapat memberikan mereka penghasilan. Pada saat yang sama, ia memiliki kegelisahan pribadi melihat makin banyaknya sampah bekas pabrik produk kulit. Sebagai seorang pencinta lingkungan, Cagi khawatir bahwa sampah itu makin lama makin banyak dan merusak kota Bandung yang ia cintai. Jiwa seniman jiwa pejuang. Idenya sebagai seorang perupa lantas saja bermunculan sejalan dengan pergumulan batinnya.

Hasilnya, sebuah karya seni praktis yang lekat dengan dirinya sebagai seorang perempuan. Tas tangan. Berbekal pertemanan dengan beberapa produsen produk kulit, ia mendatangi satu per satu meminta agar sampah kulit mereka dapat ia kumpulkan. Limbah kulit itu lalu ia olah menjadi potongan-potongan kecil berbentuk bulat, yang ia bentuk menjadi sebuah tas tangan cantik yang ia beri nama ‘fur ball’ atau ‘tas bulu’. Sebuah karya seni cantik yang berfungsi praktis.

Dimulai dengan produk pertama, ‘fur ball’ menjelma menjadi tas tangan incaran banyak perempuan. Dari semula hanya meneruskan usaha sang ayah, banyaknya permintaan, membuat Cagi harus menambah mesin warisan ayahanda untuk menaikkan kapasitas produksinya. Dari semula hanya bermodalkan kulit limbah, Cagi akhirnya harus membeli sendiri bahan kulit untuk tas-tas produksinya. Begitupun, ia tetap berkomitmen menjaga lingkungan dengan sesedikit mungkin menghasilkan limbah produknya.

Disinilah ide dan kreatifitasnya sebagai seorang perupa terus diasah. Saat ini produk kulit hasil karya Cagi yang ia beri label ‘s.rw’ sudah menjadi bagian dari penampilan banyak perempuan. Tas-tas cantik itu dapat diperoleh melalui sosial medianya di Instagram dengan akun @s.rw yang diikuti oleh lebih dari 68 ribu akun. Kualitas dan keindahan produk s.rw membuat tas-tas indah ini dapat menembus jaringan departemen stores internasional, Galery Laffayette di mall Pacific Place, Jakarta.

Tidak hanya ‘fur ball’, saat ini Cagi juga memproduksi tas tangan model lain yang juga tak kalah cantik. Mengikuti trend fashion yang ada, Cagi merambah produksinya dengan strap atau tali tas. Produk-produknya tentu saja menjadi dambaan banyak perempuan yang ingin tampil modis. \r\n\r\nSyagini Ratna Wulan (Cagi) – Seniman. Perupa, Pengusaha, Perempuan Hebat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Tulisan Lain

fashion, hair, outdoors

Perempuan adalah Sahabat Bagi Perempuan Lain

Setiap perempuan itu unik. Setiap perempuan memiliki kisah perjuangan hidupnya sendiri, yang satu berbeda dengan yang lain. Masing–masing mengalami saat–saat dimana mereka merasa bahwa tekanan

Fien Jarangga

Kisah Mama Fien Jarangga (Yarangga)

Fien jarangga biasa disebut sebagai Awin Fien. Awin merupakan panggilan kehormatan perempuan Papua terhadap perempuan yang dituakan atau dianggap sebagai ibu, figur atau sosok yang

Send Us A Message